Sabtu, 23 November 2013

Efektivitas Pendidikan Karakter Butuh Kerja Sama Guru dan Orang Tua

  • Rabu, 16 Oktober 2013 | 13:58 WIB
Kepala sekolah juga harus bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan yang kita sebut sebagai pembudayaan sekolah. Seperti, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan toilet dengan benar, penyediaan tempat sampah dan pembiasaan anak-anak membuang sampah pada tempatnya, termasuk membiasanya budaya bersih-rapi-nyaman-disiplin-sopan santun. | M Latief/KOMPAS.com
Oleh: Diah Harianti

KOMPAS.com - Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2012, Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis, pengembangan kurikulum, metodologi pembelajaran, dan perbukuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan nonformal dan pendidikan informal.

Secara teknis, Puskurbuk melakukan koordinasi kegiatan pendidikan karakter di tingkat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), termasuk koordinasi dengan unit-unit utama. Kemdikbud juga mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum yang sudah ada dengan kegiatan-kegiatan penguatan pendidikan karakter dan penyusunan buku panduannya.

Ada beberapa strategi yang dilakukan Kemdikbud untuk penguatan pelaksanaan pendidikan karakter, yaitu dengan memperkuat panduan bagaimana melaksanakannya (pendidikan karakter), lalu mengakomodasi lembaga yang sudah melaksanakan pendidikan karakter walaupun dengan nama yang berbeda-beda. Ketiga, menguatkan kegiatan yang sudah ada di sekolah, disamping Kemdikbud tetap melakukan koordinasi menyeluruh. 

Sejak 2011, Puskurbuk sudah mengidentifikasi berbagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan unit-unit utama untuk pendidikan karakter. Pada umumnya, mereka lebih ke menyosialisasikan dokumen-dokumen pendidikan karakter dan bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter itu dalam kurikulum.

Berdasarkan hasil monitoring, hampir 100 persen sekolah di kabupaten/kota maupun provinsi sudah mengetahui pentingnya penerapan pendidikan karakter. Artinya, sosialisasi yang dilakukan oleh Pusat sudah berhasil. Keberhasilan itu juga didukung oleh unit-unit utama yang disetiap kegiatan mereka yang melibatkan banyak peserta dari seluruh Indonesia, seperti pelatihan atau sosialisasi hal lainnya, selalu menyisipkan waktu untuk sosialisasi pendidikan karakter. Jadi, sosialisasi pendidikan karakter sudah cukup masif. 

Nah, bagaimana pelaksanaannya di sekolah pada saat ini? Mengingat konsep dasarnya mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum, maka tidak ada penambahan mata pelajaran. Semua guru, kepala sekolah maupun tenaga pendidikan yang lain bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah masing-masing. Jadi, nilai-nilai dalam pendidikan karakter diintegrasikan dalam mata pelajaran atau pembiasaan-pembiasaan dengan beragam cara yang tepat.

Untuk kedisiplinan, misalnya. Anak diharuskan mengerjakan PR, datang tepat waktu, tidak menyontek, dan sebagainya. Di samping itu, kepala sekolah juga harus bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan yang kita sebut sebagai pembudayaan sekolah. Seperti, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan toilet dengan benar, penyediaan tempat sampah dan pembiasaan anak-anak membuang sampah pada tempatnya, termasuk membiasanya budaya bersih-rapi-nyaman-disiplin-sopan santun.

Saat ini, Pemerintah Pusat telah menunjuk 300 sekolah di 33 provinsi dan 44 kabupaten/kota yang dijadikan sekolah perintis pendidikan karakter. Sekolah perintis tersebut terdiri dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, PLB, dan PKBM.

Pusat juga sudah bekerja sama dengan Dikti untuk pendidikan karakter di perguruan tinggi. Adapun pendidikan karakter di tingkat pendidikan tinggi agak berbeda dengan pendidikan dasar dan menengah. Meskipun penerapannya tidak terlalu berbeda, tetapi strateginya harus berbeda mengingat mahasiswanya dinilai sudah dewasa. Ada juga yang dimasukkan untuk mata kuliah tertentu, seperti bela negara.

Pemerintah memunculkan gerakan pendidikan karakter tentu setelah melalui pertimbangan matang berdasarkan kajian mendalam. Di tengah masyarakat terdapat anggapan, bahwa hasil pendidikan hanya melahirkan anak pintar, namun berperilaku tidak sopan, tidak peduli, kurang cinta pada tanah air, dan cenderung radikal. Dengan begitu, pembelajaran di sekolah dianggap lebih menekankan pada aspek kognitif.

Sekolah juga dinilai kurang menekankan siswa pada sikap untuk berbuat baik. Oleh karena itulah pemerintah mencanangkan gerakan pendidikan berbasis karakter dengan harapan bahwa peserta didik tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi juga memiliki sikap dan nilai-nilai yang baik.

Kajian lapangan

Bertujuan melihat perkembangan pendidikan karakter di sekolah, Kemdikbud telah melakukan kajian lapangan di berbagai jenis sekolah, termasuk sekolah yang kurang bagus. Bahkan, di Jakarta ada sebuah SMP yang muridnya dari golongan ekonomi bawah dan berlokasi dekat tempat pembuangan akhir sampah.

Namun demikian, kepala sekolah mempunyai tekad kuat untuk membentuk  anak didiknya mempunyai karakter yang bagus, seperti disiplin, bersih, dan sebagainya. Ternyata, semua itu berhasil. 

Pemilihan sekolah sebagai perintis pendidikan karakter diserahkan kepada dinas masing-masing. Di daerah piloting, sosialisasi ditujukan kepada seluruh warga sekolah, termasuk kepala sekolah, guru, murid, dan tenaga kependidikan. Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin dalam pendidikan karakter ini, sehingga kepala sekolah yang harus selalu mengingatkan.

Jadi, kunci keberhasilan pendidikan karakter itu ada di karakter kepala sekolah. Kalau dia berniat berubah menjadi yang lebih baik, maka seterusnya akan menularkan perilaku baik bagi guru-guru dan murid-muridnya.

Prinsipnya, tentu dimulai dari diri sendiri, diawali dari yang mudah, dan dilakukan saat ini juga. Misalnya, datang tepat waktu. Itu dulu yang dilakukan sebagai contoh. Jika tidak dilakukan, hanya akan menjadi konsep saja.

Diimplementasikan di sekolah, Kemdikbud tidak menginginkan pendidikan karakter dinilai sama dengan mata pelajaran lainnya. Tentu saja, karena ini menyangkut pengembangan sikap, nilai, dan pembiasaan. Namun, Kemdikbud mengharapkan guru bisa mengamati anak itu.

Kemdikbud tidak mempermasalahkan penilainya. Hal terpenting adalah, lingkungan sekolah, baik murid, guru, dan tenaga kependidikannya, menjadi lebih baik karena menerapkan pendidikan karakter. 

Hasil dari pendidikan karakter tidak dapat dirasakan atau dilihat seketika, karena hal ini memerlukan waktu  lama. Penerapan pendidikan karakter memerlukan kerja sama berbagai pihak dan juga memerlukan contoh dari pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua. Setidaknya, ada koordinasi antara sekolah dengan orang tua, misalnya melalui momen mengambil rapor, atau buku penghubung. Jika kerja sama antara yang di sekolah dengan yang di rumah sudah terjalan baik, nanti hasilnya akan menjadi lebih baik lagi. 

Melihat pendidikan karakter amat penting dalam kehidupan anak didik, orang tua hendaknya jangan hanya ngotot putranya lulus ujian nasional (UN) dengan nilai bagus. Para orang tua hendaknya juga berharap putranya memiliki moral dan perilaku lebih baik, cerdas dan berhati mulia.

Demikianlah kitanya generasi emas dambaan. Kita menaruh harapan besar pada generasi seperti ini dalam kehidupan bernegara dan berbangsa pada masa mendatang. Semoga harapan ini terwujud. (ARIFAH/RATIH) 

Penulis adalah Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud

Pendidikan Berkualitas untuk Generasi Emas

  • Jumat, 18 Oktober 2013 | 10:53 WIB
Secara akademis, riset membuktikan bahwa setiap anak lahir dengan potensinya masing-masing. Jadikan anak sesuai dengan potensinya, bukan sesuai dengan harapan orang tua. | Dok Kemdikbud
Oleh Ibrahim Bafadal

KOMPAS.com
- Tugas pendidikan adalah mengupayakan agar anak bisa mengenal potensi dirinya, sedangkan pendidikan berperan memberikan fasilitas agar mereka dapat mengembangkan potensinya, baik bidang akademik maupun potensi non-akademik, seperti seni dan olah raga.

Secara akademis, riset membuktikan bahwa setiap anak lahir dengan potensinya masing-masing. Ada kata-kata bijak menyebutkan, "Jadikan anak sesuai dengan potensinya, bukan sesuai dengan harapan orang tua."

Perlu juga dipahami, bahwa potensi itu adalah bawaan dari lahir, namun ada juga produk dari proses pendidikan. Jika anak mempunyai bakat tetapi tidak dididik dengan tepat, maka potensinya tidak akan tumbuh dan berkembang optimal. Demikian sebaliknya, jika anak tidak berbakat tetapi dipaksakan oleh guru atau orang tuanya, potensinnya pun tidak akan tumbuh dengan baik. Pasti akan ada konflik internal dalam jiwa si anak. Karena itulah, harus serasi dan seimbang antara potensi bawaan anak dengan proses pendidikannya.

Untuk dapat mengembangkan potensi tersebut, ada beberapa tahapan atau langkah harus ditempuh oleh semua pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Pertama adalah pendidikan, melalui peran sekolah harus mampu mengidentifikasikan potensi anak didiknya melalui pilihan ekstra kurikuler.

Kedua, setelah anak mengenal potensi dan bakat dirinya, maka tugas pendidikan, sekolah atau kementerian, adalah menumbuhkembangkan potensi tersebut. Karena itu, perlu adanya pembelajaran ekstrakurikuler yang efektif dan efisien sebagai upaya menumbuhkembangkan bakat dan minat anak.

Ketiga, memberi peluang anak didik untuk mengikuti perlombaan guna mengukur potensi dirinya. Apakah potensi itu sudah di level sekolah, kecamatan, kabupaten maupun tingkat nasional. Inilah yang melatarbelakangi Kemdikbud menyelenggarakan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional(FLS2N). Jadi, kegiatan ini merupakan bagian dari proses menumbukembangkan potensi anak sesuai dengan minat dan potensinya.

Kemdikbud juga terus mendukung peningkatan kualitas pembelajaran ekstra kurikuler, misalnya dengan memberikan bantuan pengadaan peralatan olah raga dan seni. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik yang belum mendapat kesempatan mengikuti ajang perlombaan tingkat nasional, dapat juga mengembangkan potensinya di sekolah. Asumsinya, jika dalam FLS2N satu provinsi diwakili hanya segelintir siswa dari 26 juta siswa SD di Indonesia, program bantuan pengadaan diharapkan dapat mencakup jauh lebih banyak siswa di sekolah.

Kemudian, perlu juga diperhatikan peningkatan kualitas guru atau pembina ekstra kurikuler. Harus menjadi perhatian, bahwa penting untuk memiliki pembina yang mempunyai bakat dan minat terhadap ektra kurikuler yang dibinanya. Jika tidak, mereka tidak akan dapat menelurkan anak-anak berpotensi unggul.

Sebagai alternatif, ada sekolah yang menyerahkan pembinaan ekstra kurikuler kepada mahasiswa perguruan tinggi yang mempunyai bakat di bidang tertentu. Sementara pada waktu ekstra kurikuler, para guru mengadakan rapat persiapan mengajar untuk minggu berikutnya.

Oleh karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara orang tua, unit pelayan teknis daerah (UPTD) pendidikan dasar di tingkat kecamatan, dinas kabupaten/kota, provinsi, maupun Kemdikbud, maka semua pihak tersebut hendaknya berkerja di kavlingnya masing-masing. Misalnya, kurikulum adalah tugas pemerintah pusat, sedangkan tempat belajar dan mengajar yang baik adalah tugas masing-masing sekolah dan daerah. Komponen bangsa lainnya pun harus mendukung, seperti para seniman yang turut berpartisipasi membina potensi anakdibidang seni.

Menata generasi emas

Secara historis, kebangkitan bangsa pertama kalinya digaungkan pada hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Lalu, lahirlah generasi yang mengisi pembangunan.

Saat ini, Indonesia akan menuju kebangkitan kedua, yaitu 100 tahun Indonesia merdeka pada tahun 2045. Inilah yang melatarbelakangi kebangkitan generasi emas. Inilah saat yang tepat bagi pendidikan untuk berperan menciptakan generasi emas Indonesia. Ini adalah momentum sangat tepat bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk menata dengan sebaik-baiknya pendidikan berkualitas.

Pencanangan generasi emas tahun pertama juga telah dibarengi dengan revitalisasi pendidikan karakter. Mengintegrasikan (kembali) pendidikan dan kebudayaan merupakan langkah sangat tepat, dengan harapan pendidikan akan melahirkan anak yang berbudaya sehingga jika disatukan akan serasi antara proses dan produk. Namun, dalam hal ini, budaya hendaknya tidak serta merta dimaknai secara sempit, tetapi lebih luas lagi, seperti budaya sopan santun, budaya pemanfaatan teknologi dengan bijak.

Berdasarkan hasil kajian yang mendalam, Kemdikbud sudah mengindetifikasi 18 nilai-nilai kebaikan yang akan disemaikan kepada anak didik melalui pendidikan karakter. Jika nilai-nilai ini disemaikan sedini mungkin, sejak dalam PAUD, bahkan sampai dengan pendidikan tinggi, maka diharapkan tersemailah prilaku-prilaku berkarakter dan berbudaya yang baik.

Kemdikbud juga telah menyusun dan terus-menerus melakukan evaluasi terhadap tahap-tahap grand design generasi emas Indonesia. Akan lebih sempurna hasilnya jika terdapat ada kerja sama masyarakat dan pemerintah. Bagi anak didik, jangan berpikir dirinya sebagai obyek, tetapi sebagai subyek yang berperan aktif atas dukungan dan fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah, orangtua, maupun masyarakat. (ARIFAH)

Penulis adalah Direktur Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kemdikbud

Mari, Memerdekakan Pendidikan Kita!

  • Jumat, 18 Oktober 2013 | 11:16 WIB
Dari masalah sarana prasarana, akses, hingga kualitas. Mulai pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi semua terbelenggu masalah. Padahal, sudah banyak terobosan telah dilakukan Kemdikbud untuk mengeluarkan pendidikan dari berbagai belenggu yang membelitnya | M Latief/KOMPAS.com
Oleh: Ibnu Hamad

KOMPAS.com -
Merdeka dapat berarti terbebas dari belenggu. Secara fisik, belenggu itu terlepas dari kaki, tangan, dan pundak, sehingga seseorang mudah bergerak kemana saja.

Secara psikologis, jiwa yang merdeka adalah jiwa yang terbebas dari kekhawatiran, ketakutan, dan kesedihan. Juga dari kemalasan, iri dan dengki, serta kekikiran. Dalam pemikiran, kemerdekaan dicirikan oleh terbebasnya pendapat dari pendapatan.

Pemikir merdeka selalu menyatakan sesuatu yang sesuai dengan hati nuraninya. Orang yang merdeka dan pro kemerdekaan senantiasa berupaya memerdekakan setiap hal yang membelanggu dirinya, lingkungannya, dan bangsanya. Ia tak betah melihat sebuah masalah berputar di situ-situ juga. Ia selalu mencari solusinya; bukan hanya gemar mempermasalahkan masalahnya.

Dunia pendidikan kita, harus diakui, seperti tak henti dari berbagai masalah yang membelenggunya. Dari masalah sarana prasarana, akses, hingga kualitas. Mulai pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi semua terbelenggu masalah. Padahal, sudah banyak terobosan telah dilakukan Kemdikbud untuk mengeluarkan pendidikan dari berbagai belenggu yang membelitnya dan sebelas di antaranya dipaparkan secara singkat di bawah ini;

Kesatu, hingga awal 2011 banyak berita mengenai bangunan SD dan SMP yang rusak berat, bahkan beberapa di antaranya ambruk. Untuk itu, Pemerintah melaksanakanlah Program Penuntasan Rehab Sekolah Rusak Berat mulai tahun 2011.

Tak kurang dari 180.000 ruang kelas yang rusak berat telah direhabilitasi hingga 2012 lalu. Program ini terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya.

Kedua, penyaluran dana operasional sekolah (BOS) pendidikan dasar (SD dan SMP) sering terlambat. Karena itulah dikembangkan sistem penyaluran dana BOS yang langsung ke rekening sekolah dengan pemantauan secara on line. Dengan demikian sudah tidak terdengar lagi keluhan penyaluran yang terlambat. Disamping itu besaran biaya per unit cost (per siswa) BOS pun terus ditambah.

Ketiga, disamping dana BOS, untuk para siswa yang tidak mampu disediakan Bantuan Siswa Miskin (BSM). Dana ini diharapkan bisa mengurangi beban biaya personal siswa dari keluarga yang tidak mampu; di antaranya untuk membeli sepatu, baju seragam, tas dan kebutuhan pribadi siswa lainnya.

Keempat, hingga tahun 2012 angka partisipasi kasar (APK) SMA sederajat rata-rata nasional baru mencapai 70%, angka yang rendah dibandingkan APK SMP sederajat yang telah mencapi rata-rata nasional 97%. Jika ingin mencapai 97% juga dan tanpa terobosan maka baru terealisasi pada tahun 2040.

Akan tetapi, dengan kebijakan Pendidikan Menengah Universal (PMU) yang dirintis pada tahun 2012 dan dijalankan penuh mulai tahun 2013 target 97% itu niscaya tercapai pada tahun 2020. Dalam PMU ini antara lain terdapat program pembangunan ruang kelas baru (RKB) sekolah SMA dan SMK serta pemberian dana BOS Sekolah Menengah (BOS SM).

Kelima, dikeluhkan banyak orang bahwa biaya di perguruan tinggi negeri (PTN) selalu naik setiap tahun. Bahkan biaya untuk program studi tertentu, terutama kedokteran, terkesan "gila-gilaan". Karena itulah, mulai tahun akademik 2013 ditempuh mekanisme uang kuliah tunggal (UKT) untuk para mahasiswa baru PTN. Hal ini bisa dilakukan berkat disediakannya biaya operasional perguruan tinggi negeri (BOPTN). Jadi, BOS bukan hanya di tingkat SD, SMP, dan SMA, melainkan juga di level PTN.

Keenam, tampaknya seloroh “orang miskin dilarang kuliah” yang sempat populer kini tak berlaku lagi. Kehadiran program Bidik Misi yang dimulai tahun 2010 telah mengantarkan lebih dari 100 ribu siswa dari keluarga miskin bisa kuliah dengan beragam program studi dalam bidang ilmu alam, ilmu sosial, dan humaniora.

Ribuan dari mereka tersebar di 80-an PTN seluruh Indonesia. Selain biaya kuliahnya gratis, peserta Bidik Misi juga memperoleh uang saku setiap bulannya. Beberapa di antara mereka, termasuk yang kuliah di kedokteran, memperoleh IPK 4,0.

Ketujuh, untuk meningkatkan akses ke pendidikan tinggi, juga dilakukan terobosan dengan menegerikan sejumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di daerah-daerah terdepan Indonesia, mengembangkan akademi komunitas (AK) dan mendirikan PTN baru. Dari 17 PTS, sudah 12 PTS yang dinegerikan sejak tahun 2010 hingga 2013.

Untuk AK, satu kabupaten/kota akan memiliki minimal satu AK. Sedangkan untuk PTN baru sedang dirintis pendirian dua institut teknologi (satu di Sumatera dan satu di Kalimantan) dan dua istitut seni dan budaya (satu di Kalimantan dan satu di Papua).

Kedelapan, di tengah jumlah guru yang berlimpah, daerah 3T (terluar, terdepan, tertinggal) justeru mengalami kekurangan tenaga pendidik. Umumnya para guru lebih suka mengajar di daerah perkotaan. Kerena itulah ditempuh kebijakan sarjana mengajar di daerah terluar, terdepan, tertinggal atau SM3T.

Selain untuk menutupi kekurangan guru, program ini juga menjadi wahana pemerataan kualitas pendidikan di daerah 3T. Setiap tahun, sejak 2011, dikirim 3000-an sarjana pendidikan untuk mengajar di terluar, terdepan, tertinggal. Mereka adalah yang lolos ketahan-malangan dari ribuan calon peserta yang mengikuti seleksi tulis dan pelatihan.

Kesembilan, khusus untuk putera-puteri dari daerah yang belum mendapatkan layanan pendidikan secara optimal, seperti Papua, dilaksanakan afirmasi pendidikan. Dalam program ini, peserta afdik ada yang diterima di SMA/sederajat dan ada yang kuliah di PTN di luar Papua, utamanya sekolah dan PTN di Jawa.

Kesepuluh, banyak pengamat yang menyatakan bahwa pembelajaran yang ada terlalu menekankan pada hafalan, kurang memberikan perhatian pada pendidikan karakter disamping banyak membebani administrasi pengajaran pada guru. Alhasil, pelajar dan alumni banyak yang terlibat dengan tindakan asosial. Dalam konteks inilah Kurikulum 2013 patut ditempatkan sebagai terobosan untuk memecahkan masalah pendidikan kita. 

Selain standar kompetensi lulusan (SKL) yang mengintegrasikan antara sikap, pengetahuan dan keterampilan dalam setiap mata pelajaran, Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan active learning dalam proses pembelajarannya. Ini dirancang untuk mendorong siswa agar mampu mengamati (observing), menanya (questioning), menalar (associating), mencoba (experimenting) dan  membentuk jejaring (networking) sehingga terbentuk generasi yang kreatif, produktif dan afektif.

Administrasi pengajaran pada guru pun jauh berkurang dalam Kurikulum 2013. Kreativitas guru tak lagi dilihat dalam membuat silabus tetapi justeru dalam proses pembelajaran yang aktif tersebut. Sementara buku pegangan guru dan siswa disediakan pemerintah, menambah merdeka siswa, orang tua dan guru dari beban pengadaan buku.

Kesebelas, banyak dikeluhkan akses terhadap sumber belajar terbatas. Ada kendala distribusi dan daya beli. Karena itu dilakukan terobosan penyediaan bahan ajar (buku) secara online melalui layanan rumah belajar, termasuk di dalamnya buku-buku yang digunakan dalam Kurikulum 2013 Sehingga mudah diakses kapan dan dimana saja.

Kini, dengan banyaknya terobosan seperti itu, juga terobosan lain yang belum diuraikan di sini, kita harapkan dunia pendidikan akan semakin terbebas dari beragam masalah yang membelenggunya. Itu sangat penting demi masa depan Indonesia. Lebih penting lagi, kita seyogianya menjadi orang yang memerdekakan pendidikan: setiap ada masalah yang menggelayuti sistem pendidikan kita, sedapat mungkin kita berupaya mencari pemecahan masalahnya, bukan mempermasalahkan masalahnya.

Apresiasi Film Indonesia Kembali Digelar

  • Senin, 21 Oktober 2013 | 11:16 WIB
Tahun ini AFI meliputi tiga kategori, yakni kategori utama, kategori monumental, dan kategori khusus. Kategori utama meliputi Apresiasi Film Bioskop, Apresiasi Film Independen (film panjang non bioskop), Apresiasi Film Dokumenter, Apresiasi Film Animasi, Apresiasi Film Pendek, Apresiasi Film Anak, dan Apresiasi Film Pilihan Pemirsa (melalui jejak pendapat). | afi2013.org
JAKARTA, KOMPAS.com -  Apresiasi Film Indonesia (AFI) kembali digelar untuk kedua kalinya. Tahun ini penyelenggaraan AFI memberikan apresiasi terhadap karya film yang mengandung unsur nilai budaya, kearifan lokal, dan pembangunan karakter bangsa. Ajang ini juga mengajak untuk mendukung dan mencintai film Indonesia melalui #GerakanFilmIndonesia.

Apresiasi Film Indonesia (AFI) tahun ini juga mengajak untuk mendukung dan mencintai film Indonesia melalui #GerakanFilmIndonesia. Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Kacung Marijan mengatakan, film merupakan bagian dari kebudayaan. Menurut dia, agar industri film dapat berkembang di suatu negara, salah satu syarat pendukungnya adalah banyaknya orang yang mencintai dan mengapresiasi film.

"Kemdikbud memiliki misi agar anak didik kita juga memiliki apresiasi kepada film," ujarnya saat dalam keterangan pers AFI 2013 di Jakarta, Senin (21/10/2013).

Kacung menjelaskan, industri film di dunia tidak lepas dari karakter budaya masing-masing negara. Kemdikbud, kata dia, mendukung film-film yang menunjukkan karakter Indonesia.

"Salah satunya dengan memberikan apresiasi," katanya.

Penilaian terhadap film-film ini dilakukan oleh dewan juri yang diketuai Totot Indrarto. Anggota dewan juri di antaranya Matias Muchus, Jajang C Noer, Erwin Arnada, dan Nirwan Dewanto.

Tahun ini AFI meliputi tiga kategori, yakni kategori utama, kategori monumental, dan kategori khusus. Kategori utama meliputi Apresiasi Film Bioskop, Apresiasi Film Independen (film panjang non bioskop), Apresiasi Film Dokumenter, Apresiasi Film Animasi, Apresiasi Film Pendek, Apresiasi Film Anak, dan Apresiasi Film Pilihan Pemirsa (melalui jejak pendapat).

Kategori monumental meliputi Apresiasi Film Adi-Karya dan Apresiasi Film Adi-Insani. Adapun kategori khusus meliputi Apresiasi Sutradara Perdana, Apresiasi Festival Film, Apresiasi Poster Film, Apresiasi Komunitas, Apresiasi Media Cetak, Apresiasi Media Non Cetak, Apresiasi Film Independen Kategori Pelajar, Apresiasi Film Independen Kategori Mahasiswa, dan Apresiasi Lembaga Pendidikan.

Kacung menambahkan, sebagai bukti keseriusan  dalam memberikan perhatian terhadap dunia perfilman, mulai tahun depan Kemdikbud akan merintis laboratorium seni budaya di sekolah-sekolah.

"Wujudnya teater mini.  Insya Allah tahun depan dirintis lebih dari 30 sekolah," jelasnya. 

SDM perfilman, lanjut dia, bisa ditumbuhkan sejak anak-anak berada di bangku sekolah. Dengan adanya fasilitas yang didukung teknologi yang bagus, serta apresiasi yang baik mulai di tingkat sekolah, diharapkan industri film akan lebih maju di masa mendatang.

Selain mengapresiasi film sebagai karya, ajang ini juga memberikan penghargaan khusus kepada elemen-elemen yang sudah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan dunia perfilman nasional.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2013, dapat dilihat melalui laman www.afi2013.org , facebook AFI 2013, dan twitter @ApresiasiFilmID atau dengan mengirim surat elektronik (surel) ke alamat: sekretariat@afi2013.org. (DM/ASW)

Indonesia Tuan Rumah "World Culture Forum 2013"

  • Selasa, 22 Oktober 2013 | 10:29 WIB
Berlangsung pada 24-27 November 2013 di Bali, World Culture Forum bertema The Power of Culture in Development ini akan dihadiri sepuluh menteri kebudayaan. | www.shutterstock.com
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia kembali menjadi tuan rumah dalam ajang pertemuan berskala internasional. Kali ini Indonesia akan menjamu dunia dalam acara World Culture Forum (WCF), sebuah forum kebudayaan internasional yang akan menghadirkan para petinggi dunia serta pemerhati kebudayaan dari berbagai negara.

WCF 2013 rencananya akan dibuka langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, didampingi Presiden India, Presiden Yunani, dan Perdana Menteri Spanyol. Wakil Mendikbud bidang Kebudayaan (Wamenbud) Wiendu Nuryanti mengatakan, berlangsung pada 24-27 November 2013 di Bali, forum pertemuan bertema The Power of Culture in Development ini akan dihadiri sepuluh menteri kebudayaan.

"Hadir juga lembaga swadaya masyarakat internasional yang bergerak di bidang kebudayaan, serta para pemerhati kebudayaan dari Indonesia dan negara lain," kata Wiendu dalam keterangan pers di Kemdikbud, Jakarta (17/10/2013) lalu.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 2005 silam telah memprakarsai pendirian WCF ini. Tahun ini penyelenggaraan WCF kembali dibahas dalam diskusi antara Presiden SBY dengan Sekjen PBB Ban Ki Moon dalam Sidang Umum PBB pada 12 Juni 2013 lalu.

Pada diskusi tersebut, Ban Ki Moon menegaskan makna kebudayaan dalam pembangunan. Presiden SBY pun menyatakan komitmennya untuk menggali secara mendalam soal kebudayaan dalam pembangunan pada Agenda Pembangunan Pasca Millennium 2015.

WCF 2013 akan diisi dengan enam simposium internasional yang akan berlangsung secara paralel. Masing-masing simposium akan menghadirkan enam pembicara dari berbagai negara. Adapun tema keenam simposium tersebut adalah Holistic Approaches to Culture in Development; Civil Society and Cultural Democracy; Creativity and Cultural Economics; Culture in Environment Sustainability; Sustainability Urban Development; dan Inter-faith Dialogue and Community Building.
Wiendu menambahkan, festival film kebudayaan dari berbagai negara juga akan meramaikan penyelenggaraan WCF 2013. Film-film tersebut akan diputar terus menerus di bioskop di Bali mulai 24 sampai 28 November 2013, dengan dikoordinir tokoh perfilman Slamet Raharjo. Selain itu, akan diadakan juga World Ethnic Music Festival, yang akan melahirkan Deklarasi Musik Etnis Dunia.

Beberapa tokoh kebudayaan dan seniman turut dilibatkan dalam penyelenggaraan WCF 2013 di bawah pimpinan Prof. Azyumardi Azra sebagai Ketua Dewan Pengarah. WCF 2013, tutur Wiendu, merupakan inisiatif pemerintah Indonesia sepenuhnya.

"Dengan berperan aktif dalam menyusun agenda kebudayaan dunia, indonesia bisa menjadi referensi penting," ujar Wiendu.

Dia berharap, WCF dapat menghasilkan deklarasi "The Bali Promise". Penyelenggaraan WCF di Bali direncanakan menjadi forum internasional berkala untuk membahas kebudayaan dengan segala relevansinya, seperti halnya dengan World Economic Forum di Davos, Swiss, dan World Environment Forum di Rio de Janeiro, Brazil. (DM)

Mengembangkan Bakat-bakat Istimewa Anak Berkebutuhan Khusus

  • Rabu, 23 Oktober 2013 | 13:20 WIB
Sejumlah penyandang tuna daksa menerima kaki dan tangan palsu gratis dari Yayasan Peduli Tuna Daksa di Sadhu Vaswani Center, Sunter, Jakarta, Sabtu (16/6/2012). | KOMPAS IMAGES/MUNDRI WINANTO
Oleh: Mudjito

KOMPAS.com - Siapa menyangka nama Indonesia diharumkan oleh anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui Olimpiade Tunagrahita di Athena, Juli 2011, lalu? Pada perhelatan itu, kontingen Indonesia meraih 15 emas, 13 perak, dan 11 perunggu setelah bersaing dengan 7.500 atlet terbaik tunagrahita dari 184 negara di dunia. Bahkan, juara catur dunia selama dua tahun berturut-turut adalah anak dari seorang sopir bajaj yang menyandang autis dan sangat jenius dalam matematika dan catur?

Fakta tersebut membuktikan bahwa mereka adalah bagian dari generasi emas (Gifted and Talented) yang populasinya mencapai 2,5 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Jika potensi mereka dioptimalkan sesuai bidangnya masing-masing, kita optimis Indonesia akan berjaya menjadi negara yang kompetitif.

Kita merasakan betapa kayanya Indonesia dengan sumber daya alam (SDA). Namun, SDA itu tidak serta–merta membawa kejayaan, bahkan mungkin tidak lama lagi semua itu akan habis. Karena itu, kita sudah harus mengoptimalkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang juga melimpah.

Pada dasarnya, Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) terbagi menjadi dua, 2,5 persen ektrem kanan dan 2,5 persen ekstrem kiri dari kurva normal. Bagian itu adalah anak-anak jenius dan berbakat, serta anak-anak berkebutuhan khusus.

Negara bertanggung jawab atas pendidikan mereka, sebagaimana Dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan perlunya memberi pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi dan kecerdasan istimewa. Hal ini dilakukan agar potensi yang ada dapat berkembang secara optimal dan dapat membentuk manusia yang beriman, bertakwa, beakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri. Dalam teori jenis kecedasan dasar, Howard Gardner (1983) seorang profesor dari Harvard University, membagi kecerdasan dasar, antara lain: kecerdasan bahasa; matematis logis; spasial; kinestetis jasmani; musikal; interpersonal; dan intrapersonal. Sementara itu, bagi Anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK), keterbatasan fisik bukan hambatan seseorang untuk berkarya, apalagi di bidang seni, terbukti anak-anak berkebutuhan khusus rata-rata memiliki kelebihan khusus dan perasaan yang peka. Selain itu, mereka juga mempunyai semangat dan ketekunan sebagai modal berharga.

Dengan jumlah anak cerdas istimewa dan bakat istimewa yang diperkirakan melebihi populasi penduduk Singapura, para anak istimewa ini perlu diindetifikasi bakat dan potensinya. Dengan demikian, bakat dan potensi mereka dapat diarahkan dan dikembangkan sehingga nantinya bisa bekerja sesuai bidangnya masing-masing. Ibarat mutiara yang terbenam dalam lumpur, jika dibersihkan dan diasah mereka akan menjadi cemerlang.

Setelah diidentifikasi, selanjutnya mereka dibina secara khusus agar potensinya benar-benar berkembang secara aktual. Nah, disinilah peran pendidikan menjadi sangat penting, tentunya mereka perlu di-maintain agar anugerah yang istimewa ini terwujud dalam prestasi optimal.
Peran Pemerintah
Reach the Unreached adalah istilah yang kita kenal dalam menangani anak-anak luar biasa dan anak–anak marjinal lainnya. Pemerintah tidak tinggal diam untuk memfasilitasi mereka antara lain dengan menyediakan bantuan beasiswa yang jumlahnya dua kali lipat dari beasiswa miskin di sekolah reguler atau sekitar 750 ribu per anak per tahun tanpa diskriminasi. Ini diberikan untuk seluruh siswa, baik di sekolah negeri maupun swasta, di kota maupun di desa.

Tidak ada lagi alasan bagi setiap anak untuk tidak bersekolah. Mengapa? Karena sekolah pun telah disubsidi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, baik melalui dana bantuan operasional sekolah (BOS) maupun bantuan khusus sekolah luar biasa yang mencapai Rp 40 juta per tahun/sekolah. Bahkan, ABK atau "anak normal" di sekolah umum dan mempunyai orang tua yang cacat juga berhak mendapat beasiswa. Jadi, sekolah sebaiknya tidak memungut biaya operasional pada ABK.

Peluang berkembangnya ABK tentu sangat terbuka, antara lain di bidang seni. Salah satu keistimewaan bangsa Indonesia adalah kekayaan seni dan budaya yang luar biasa. Karena itu, Kemdikbud menfasilitasi pengembangan potensi mereka, salah satunya melalui kegiatan tahunan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

Kompetensi ini terbukti mampu menjaring bibit-bibit unggul dalam bidang vokal, melukis, cipta, dan baca puisi, serta memainkan alat musik modern. Kompetisi ini setidaknya berhasil menepis stigma negatif di tengah masyarakat yang menganggap bahwa anak-anak berkebutuhan khusus ini statis dan menjadi beban.

Kemdikbud selain memberi bekal kecakapan hidup,  juga bekerja sama dengan berbagai pihak dalam menyelenggarakan program kewirausahaan agar mereka tidak menjadi beban masyarakat. Dari program ini, sudah banyak yang berhasil. Misalnya, ada yang mempunyai restoran, bengkel, salon, dan seterusnya yang mempekerjakan banyak karyawan. Jadi, jika potensi ini dikembangkan sesuai bidangnya masing-masing, mereka juga bisa eksis dalam masyarakat.

Tantangan saat ini adalah masih adanya pihak yang mengeksploitasi keterbatasan mereka. Misalnya, menjadikan ABD sebagai peminta-minta di jalan. Ini adalah lingkaran permasalahan kompleks yang dihadapi masyarakat, tidak hanya dihadapi Kemdikbud. Sistem pendidikan terus-menerus berupaya melayani agar mereka bersekolah dan memperoleh kecakapan, bahkan diberikan banyak bantuan dan kemudahan agar menjadi insan mandiri.

Nantinya sekolah yang melayani mereka akan diperbanyak dan diperluas jangkauannya dengan berbagai bentuk layanan, misalnya membangun 5 unit sekolah baru, mengembangkan kelas akselarasi, sekolah unggulan, maupun sekolah luar biasa.

Generasi emas dari 2,5 persen ini yang nantinya akan berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan teknologi, hukum, penelitian dan lain sebagainya. Jangan sampai keterbatasan menghalangi untuk berprestasi. (ARIFAH/TANIA)

Penulis adalah Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Pendidikan Dasar, Kemdikbud

ITS Sabet Lagi Juara Umum IEMC 2013

  • Penulis :
  • Palupi Annisa Auliani
  • Senin, 18 November 2013 | 04:34 WIB
SURABAYA, KOMPAS.com — Tim ITS menyabet juara umum lomba mobil hemat bahan bakar bertajuk Indonesia Energy Marathon Challenge (IEMC) 2013. Diikuti 53 tim dari 30 universitas se-Indonesia, kompetisi ini berlangsung di Sirkuit Kenjeran Park, Surabaya, Jawa Timur, pada 15-17 November 2013.
"Karena hasil 'race' hari terakhir dalam lomba irit (mobil hemat) itu, tim ITS menyabet empat dari enam kelas (dua kategori) yang dilombakan," kata Sekretaris Panitia Pelaksana IEMC 2013 Kenan Sihombing di Surabaya, Minggu (17/11/2013) malam.
   
Didampingi staf Sekretariat Panitia Pelaksana IEMC 2013, Zahrah, dia menjelaskan untuk kategori prototipe, tim ITS menyabet peringkat pertama pada kelas diesel, sedangkan kelas bensin menyabet peringkat kedua. Namun, pada kelas listrik, ITS justru kalah dari tim UI dan UPI.
   
"Sebaliknya, pada kelas urban, tim ITS menyabet peringkat pertama pada semua kelas, yakni bensin, diesel, dan listrik," kata Kenan, mahasiswa jurusan Teknik Mesin ITS itu.

Prototipe bensin hasil "race" menempatkan Nakoela Hore UI dari UI pada peringkat pertama dengan capaian 1.027,4650 kilometer per liter, sementara prototipe besutan ITS Team 1 dari ITS dengan mencatatkan capaian 677,9639 kilometer per liter.

Adapun di prototipe diesel, besutan ITS Team 4 dari ITS menempati peringkat pertama dengan capaian 399,2818 kilometer per liter. Sementara pada prototipe listrik, juara pertama didapat Arjuna Hore dari UI dengan capaian 252,4328 kilometer per kilo watt hour, dan peringkat kedua ditempati karya Bumi Siliwangi 3 dari UPI dengan capaian 236,9837 kilometer per kilo watt hour.
   
Untuk kategori urban bensin, hasil "race" adalah ITS Team 3 dari ITS dengan capaian 191,1462 kilometer per liter dan Bengawan dari UNS dengan capaian 135,8922 kilometer per liter.
   
Lalu, di kategori urban diesel, pemenangnya adalah ITS Team 2 dari ITS dengan capaian 191,9998 kilometer per liter dan Semar Urban dari UGM dengan capaian 111,8151 kilometer per liter.
   
Adapun untuk kategori urban listrik, peringkat pertama ditempati Nagageni 2 dari ITS dengan capaian 100,1006 kilometer per kilo watt hour disusul Cikal Cakrawala EV dari ITB dengan capaian 69,2053 kilometer per kilo watt hour.
   
"Selain peraih nilai terbaik, panitia juga menyiapkan juara best design, best video, dan best team yang diumumkan pada penutupan lomba di Gedung Robotika ITS Surabaya," kata Kenan.
  
IEMC sudah dua kali diadakan Jurusan Teknik Mesin ITS dengan dukungan Dirjen Dikti Kemendikbud, yaitu pada 2012 dan 2013. Pada kedua kompetisi, tuan rumah selalu menyabet gelar juara umum.
   
Pada hari terakhir IEMC 2013 yang sempat disaksikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, tim Apatte 62 Brawijaya Team 1 kelas proto listrik mengalami kegagalan "race" akibat kesalahan teknis. Prototipe mobil mereka menabrak balon gate start.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Modern Warfare 3